Opini oleh: Azman Asgar
Anggota Forum Pendamping Percepatan Pembangunan Kabupaten Donggala
DONGGALA – Pendidikan bukan hanya tentang buku dan beasiswa saja, tapi tentang infrastruktur yang layak dan memberi rasa nyaman untuk belajar.
Hakikat ini yang dipahami Vera Laruni sebagai Bupati Donggala.
Jika negara sudah memberi porsi APBN terhadap anak didik dengan beasiswa, maka daerah harus memastikan tempat dan segala penunjangnya juga ikut terjamin.
Berangkat dari itu, gagasan seragam sekolah gratis dan penyediaan bangku dan meja yang layak bagi anak didik menjadi sama pentingnya.
Di sini, porsi kewenangan itu terbagi secara adil antara pusat, provinsi dan kabupaten.
Sekarang, siswa di SMPN 1 Sirenja Donggala sudah menikmati infrastruktur yang layak di sekolah.
Ini langkah awal dari komitmen mendorong sumber daya manusia yang baik di Kabupaten Donggala.
2025-2026, Pemkab Donggala telah menganggarkan pabrikasi kursi dan meja untuk beberapa sekolah.
Meski belum sepenuhnya menyasar semua sekolah, kebijakan memporsikan anggaran daerah terhadap pendidikan adalah bagian dari tanggung jawab yang sesungguhnya menata masa depan. Apalagi di tengah efisiensi.
Dalam landscape pemerintahan moderen dan visioner, keberpihakan tidak butuh definisi dan teori.
Ia hanya butuh diamati, seberapa besar porsi keuangan daerah diperuntukan untuk kepentingan banyak orang.
Paradigma itu yang kini sedang di bangun Bupati Donggala Vera Elena Laruni. Rumus yang ia pegang tidak ribet.
Bagaimana APBD bisa bertambah dan kemana arah peruntukannya. Sesimple itu.
SMPN 1 Sirenja satu dari beberapa sekolah yang nantinya akan mendapat infrastruktur penunjang dari pemerintah Donggala.
Bupati Vera Laruni tahu, tanggung jawab bukan berhenti pada menggugurkan kewajiban sebagai kepala daerah saja. Ada bobot dan kualitas yang lahir dari tanggung jawab itu.
Bangku dan meja meubelair itu bukan lagi tentang tempat mengeja bacaan, menoreh tinta, ia sekarang telah menjadi wadah anak-anak Donggala menata masa depannya dengan baik dan terencana.
Kemiskinan di Donggala tidak hanya diatasi dengan lapangan kerja, melainkan kesiapan kulitas sumber daya manusianya. Ini yang dipahami Vera Laruni sebagai jalan keluar yang holistik.
Penyediaan bangku dan meja meubelair oleh Vera Laruni ini mengajarkan kita pada satu hal penting bahwa pendidikan tidak hanya dibangun melalui apa yang dibaca oleh pikiran, tetapi juga melalui apa yang dialami oleh manusia dalam lingkungannya.
Pada akhirnya kita semua akan mengerti, sekolah tidak membuat orang kaya raya, tapi menjadikan setiap orang mengerti hakikat tentang manusia seutuhnya.
Sampai ketemu di catatan pendek berikutnya. (*)