Geliat Ekonomi Kreatif di Donggala, Sagu Desa Mekar Baru Jadi Penopang Ketahanan Pangan Lokal

DONGGALA – Pengolahan sagu di Desa Mekar Baru, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, kini menjadi salah satu pilar potensi pangan lokal. Selain mendukung ketahanan pangan, aktivitas hilirisasi tanaman bernama lokal “Mogame” ini terbukti mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat. Menariknya, proses pengolahan sagu di desa ini telah mengombinasikan teknologi modern dan metode tradisional. Warga […]

DONGGALA – Pengolahan sagu di Desa Mekar Baru, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, kini menjadi salah satu pilar potensi pangan lokal.

Selain mendukung ketahanan pangan, aktivitas hilirisasi tanaman bernama lokal “Mogame” ini terbukti mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.

Menariknya, proses pengolahan sagu di desa ini telah mengombinasikan teknologi modern dan metode tradisional.

Warga mulai memanfaatkan mesin penggiling modern sehingga produksi menjadi lebih cepat dan efisien, tanpa menghilangkan tahapan otentik warisan leluhur.

Proses dimulai dari penebangan batang sagu yang telah matang. Batang tersebut dipotong menjadi beberapa bagian kecil agar mudah diproses.

Selanjutnya, potongan batang digiling atau diparut menggunakan mesin hingga menjadi remahan halus, lalu dicampur air bersih untuk diperas dan disaring demi memisahkan sari pati dari ampasnya.

Air pati tersebut kemudian diendapkan di dalam bak penampungan sebelum akhirnya dikeringkan menjadi tepung siap olah.

Salah seorang pekerja pengolah sagu, Algifari (28), membeberkan bahwa proses produksi dari hulu ke hilir setidaknya membutuhkan waktu sekitar tiga hari.

“Setelah ditebang, batang sagu biasanya didiamkan selama satu hari. Besoknya baru mulai diolah,” kata pria yang kerap disapa Agi, Senin (13/7/2026).

Dalam satu kali siklus produksi, para pekerja biasanya mampu mengolah empat hingga enam batang sagu, tergantung ketersediaan bahan baku di lapangan.

“Satu pohon bisa menghasilkan sekitar 12 sampai 17 potong batang, tergantung tinggi dan besarnya pohon,” lanjut Agi yang mengaku sudah melakoni pekerjaan ini sejak duduk di bangku SMA.

Setelah pati mengendap, sagu dikemas ke dalam wadah tradisional yang disebut basung.

Uniknya, wadah hingga tali pengikat basung ini seluruhnya memanfaatkan pelepah pohon sagu yang diiris tipis.

Dari satu pohon utuh, pekerja bisa menghasilkan sekitar 100 hingga 150 basung sagu.

Meski sudah dibantu mesin pemarut, Agi tidak menampik bahwa ada bagian dari proses Mogame yang menguras fisik luar biasa, yaitu proses penyaringan atau peremasan pati secara manual.

“Yang paling berat itu saat memeras karena harus berdiri seharian dan tangan terus bergerak sampai pekerjaan selesai,” tuturnya.

Untuk urusan pasar, sagu-sagu yang telah dikemas rapi dalam basung umumnya langsung dibeli oleh pelanggan tetap. Perajin mematok harga yang cukup terjangkau demi menjaga stabilitas pasar lokal.

“Dijual dengan harga sekitar Rp 10.000 per basung. Jumlah produksinya kami sesuaikan dengan permintaan pasar,” pungkas Agi.

Tepung sagu hasil produksi Desa Mekar Baru ini nantinya didistribusikan ke berbagai daerah untuk diolah menjadi aneka kuliner khas Nusantara, mulai dari papeda, kapurung, jepa (dange), somo (sagu panggang), kue kering, mi sagu atau mie giling, hingga bahan baku es cendol. (*)