DONGGALA – Wakil Bupati Donggala, Taufik M. Burhan, mengusulkan agar buku “Sova Kaili Rai ri Tavambula” dibedah melalui forum diskusi yang melibatkan tokoh adat, akademisi, dan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah guna menyempurnakan isi buku untuk jilid selanjutnya sekaligus memperkuat pelestarian bahasa Kaili dialek Rai.
Usulan itu disampaikan Taufik saat menghadiri peluncuran buku “Sova Kaili Rai ri Tavambula” di Desa Lero, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sabtu (18/7/2026).
Buku yang berarti “Ujaran Bahasa Kaili Berdialek Rai di Daun Putih” tersebut ditulis oleh Mohammad Nur Hi. Lapanintjo bersama Yusuf Dae Litji, Muis Senggi, dan Himawan Djalaluddin sebagai upaya mendokumentasikan sekaligus melestarikan bahasa Kaili dialek Rai.
Menurut Taufik, hasil karya tersebut patut diapresiasi karena disusun melalui proses yang panjang dan menjadi kontribusi penting bagi pelestarian bahasa daerah.
“Saya mengusulkan buku ini dibagikan terlebih dahulu kepada para tokoh yang memahami empat dialek Kaili Rai. Setelah itu kita gelar forum bedah buku agar mendapatkan masukan yang konstruktif untuk penyempurnaan isi buku,” katanya.
Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Donggala siap memfasilitasi pelaksanaan bedah buku dengan menghadirkan berbagai pihak, mulai dari tokoh adat, pegiat budaya, akademisi, hingga Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah.
Menurutnya, forum tersebut penting agar buku yang nantinya dicetak dalam jumlah lebih banyak benar-benar mewakili kekayaan bahasa Kaili dialek Rai di berbagai wilayah.
Taufik menjelaskan, bahasa Kaili dialek Rai memiliki sejumlah variasi dialek yang digunakan di beberapa kecamatan, sehingga diperlukan masukan dari para penutur dan pemerhati bahasa agar isi buku semakin lengkap.
“Kalau nanti buku ini diperbanyak dan didistribusikan ke sekolah-sekolah, seluruh unsur dari dialek-dialek tersebut diharapkan sudah terakomodasi,” ujarnya.
Selain mengusulkan bedah buku, Taufik juga memberikan apresiasi kepada penulis utama, Mohammad Nur Hi. Lapanintjo, atas dedikasinya menyelesaikan karya tersebut.
Sebagai bentuk penghargaan, Taufik menyatakan akan menyumbangkan 17 eksemplar buku yang nantinya dapat dibagikan kepada sejumlah tokoh dan pihak yang berkompeten untuk memberikan masukan terhadap isi buku.
Ia juga membuka peluang dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan dan pencetakan buku pada tahap berikutnya, sesuai kemampuan anggaran daerah.
Menurut Taufik, pelestarian bahasa daerah membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, tokoh adat, dan masyarakat agar bahasa Kaili dialek Rai tetap lestari serta dapat diwariskan kepada generasi mendatang. (*)